Raminalai Dakhi Bawa Keindahan dan Filosofi Songket Nias ke London hingga New York

KULITINTANEWS.COM, MEDAN – Berangkat dari keinginan melestarikan warisan leluhur yang nyaris terlupakan, Raminalai Dakhi, perempuan asal Pulau Nias, berupaya memperkenalkan kembali kain tradisional Nias kepada masyarakat luas, termasuk di panggung fesyen internasional.

Melalui Tuwu Nukhada, Raminalai mengembangkan kain tenun yang terinspirasi dari sejarah, identitas, serta filosofi kebudayaan Nias. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan menghadirkan produk fesyen, tetapi juga mengangkat kembali nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap motif kain.

Perjalanan itu tidak berlangsung singkat. Raminalai menghabiskan sekitar dua tahun untuk menelusuri sejarah dan asal-usul kain tradisional Nias melalui berbagai museum, mulai dari museum daerah dan nasional hingga museum di luar negeri. Setelah itu, ia melanjutkan proses pengembangan dan uji coba selama hampir tiga tahun sebelum memperkenalkan hasil karyanya kepada publik.

“Ke sejumlah museum di Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, dan negara lainnya,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Penelusuran tersebut dilakukan untuk menemukan jejak kain tradisional Nias yang keberadaannya dinilai semakin jarang dikenal, bahkan oleh sebagian masyarakat Nias sendiri.

Dari hasil riset itu, Raminalai berupaya mengangkat kembali motif-motif yang memiliki nilai sejarah sekaligus menyimpan kisah kehidupan masyarakat Nias pada masa lalu. Salah satunya adalah Gala Mbagi, kain yang ditelusurinya melalui koleksi museum di Belanda.

Selain itu, terdapat Rai Ni Wali-wali, kain yang menurut penuturannya memiliki makna spiritual dan berkaitan dengan simbol penyampaian doa seorang istri kepada Sang Pencipta.

Bagi Raminalai, penemuan dan pengembangan kembali kain-kain tersebut bukan sekadar menambah pengetahuan tentang tekstil tradisional. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.

“Ini budaya nenek moyang kami yang saya angkat kembali dan lestarikan. Namun, saya tidak menghindari atau mengesampingkan kemajuan teknologi dan modernitas,” katanya.

Lestarikan Budaya Dengan Sentuhan Modern

Raminalai berpandangan bahwa pelestarian budaya tidak berarti harus terpaku pada bahan maupun teknik yang digunakan pada masa lalu. Menurutnya, identitas tradisional tetap dapat dipertahankan dengan menyesuaikan proses pengembangan kain terhadap kebutuhan dan perkembangan zaman.

Ia menjelaskan, nenek moyang masyarakat Nias dahulu memanfaatkan serat tumbuhan sebagai bahan pembuatan kain. Seiring perkembangan teknologi tekstil, bahan yang tersedia kini semakin beragam, mulai dari berbagai jenis benang hingga benang metalik untuk menghasilkan motif songket.

“Saya menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Saya melihat siapa yang menyukai kain ini, warna apa yang diminati, dan bahan baku apa yang tersedia,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari proses kreatif Tuwu Nukhada. Tradisi dan sejarah tetap menjadi sumber inspirasi, sementara inovasi dalam pemilihan bahan, warna, dan desain diharapkan dapat membuat kain tradisional lebih mudah diterima oleh masyarakat masa kini.

Di sisi lain, Raminalai mengaku masih menghadapi tantangan dalam memperkenalkan Songket Nias. Sebagian orang, katanya, mempertanyakan keberadaan songket dalam kebudayaan Nias.

“Ini perjuangan. Ada yang bertanya, sejak kapan Nias punya songket? Itu menjadi tantangan bagi saya,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa istilah songket digunakan untuk menyebut kain tenun dengan teknik penambahan benang hias yang menghasilkan motif menonjol pada permukaan kain. Melalui pengembangan dan pengenalan karya-karyanya, ia berupaya membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih jauh sejarah serta kekayaan tekstil tradisional Nias.

Gala Mbagi dan Rai Ni Wali-wali, Motif yang Menyimpan Filosofi

Melalui Tuwu Nukhada, Raminalai mengembangkan beragam motif yang terinspirasi dari tradisi, alam, perhiasan, serta simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat Nias.

Salah satu motif yang diangkat adalah Gala Mbagi, yang terinspirasi dari perhiasan berupa kalung emas perempuan bangsawan Nias. Perhiasan tersebut memiliki keterkaitan dengan simbol kebangsawanan, keanggunan, dan feminitas.

Menurut Raminalai, salah satu kain yang berkaitan dengan penelusuran motif tersebut ditemukan melalui riset terhadap koleksi museum di Belanda.

Sementara itu, motif Rai Ni Wali-wali dikembangkan dari simbol mahkota tradisional dan memiliki makna spiritual yang berkaitan dengan doa seorang istri kepada Sang Pencipta.

Melalui pengembangan motif-motif tersebut, Raminalai ingin agar kain tradisional tidak hanya dipandang dari segi keindahan visual, tetapi juga dipahami sebagai media untuk mengenalkan sejarah, nilai, dan filosofi budaya Nias kepada generasi masa kini.

Dari Nias Menuju Panggung Fesyen Internasional

Upaya memperkenalkan Songket Nias terus dilakukan Raminalai melalui berbagai kegiatan fesyen dan kebudayaan. Berprofesi sebagai advokat sekaligus anggota Bhayangkari, ia mengembangkan Tuwu Nukhada sebagai wadah untuk memperkenalkan kekayaan tekstil tradisional Nias kepada khalayak yang lebih luas.

Karya Songket Nias yang dikembangkannya telah diperkenalkan melalui sejumlah ajang, termasuk INACRAFT dan Indonesia Fashion Week.

Pengenalan tersebut juga menjangkau kegiatan di luar negeri, termasuk di Bangkok, London, dan New York. Salah satu upaya itu dilakukan melalui keikutsertaan putrinya, Clairine, yang mengenakan busana berbahan Songket Nias dalam kegiatan internasional.

Bagi Raminalai, kesempatan memperkenalkan Songket Nias di berbagai panggung tersebut bukan semata-mata untuk menampilkan keindahan kain. Ia ingin masyarakat internasional mengenal Pulau Nias melalui motif, filosofi, dan kisah budaya yang melekat pada setiap helai tenun.

Ia berharap kain tradisional Nias dapat memperoleh ruang lebih luas dalam industri fesyen tanpa kehilangan identitas yang menjadi akar penciptaannya.

Filosofi Tuwu Nukhada: Mengangkat dan Menerangi

Nama Tuwu Nukhada memiliki filosofi tersendiri. Kata tuwu, menurut penjelasan Raminalai, berarti mengangkat. Nama tersebut terinspirasi dari bagian rumah adat Nias yang disebut lawa-lawa.

Ketika bagian tersebut diangkat, cahaya matahari dapat masuk dan menerangi ruangan di dalam rumah. Filosofi inilah yang menjadi landasan bagi Raminalai dalam mengembangkan Tuwu Nukhada.

Melalui karya tekstil, ia ingin mengangkat kekayaan budaya Nias agar semakin dikenal masyarakat luas, sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya.

Bersama kedua putrinya, Raminalai membangun Tuwu Nukhada sebagai wadah untuk mengembangkan kain tradisional dan memperkenalkan identitas budaya Nias melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Tidak berhenti pada pelestarian budaya, mereka juga bercita-cita membangun yayasan yang dapat mendukung pendidikan anak-anak Nias, termasuk membantu menyediakan perlengkapan sekolah.

Harapannya, filosofi tuwu tidak hanya diwujudkan melalui upaya mengangkat warisan leluhur, tetapi juga melalui kontribusi nyata dalam menerangi masa depan generasi muda.

Dari penelusuran sejarah di museum hingga pengenalan karya di panggung fesyen internasional, perjalanan Raminalai Dakhi menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya Nias.

Melalui Tuwu Nukhada, ia berharap Songket Nias tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga terus berkembang sebagai identitas budaya yang hidup, dikenal lintas generasi, dan memperoleh tempat di mata dunia.(Red*)